Buat apa OSPEK

Semua mahasiswa pasti pernah merasakan OSPEK/MABIM, dari jaman dulu OSPEK telah ada. Dengan tujuan mengenalkan siswa ke kehidupan kemahasiswaan/kampus OSPEK dijalankan. Entah seperti apa OSPEK pertama kali dijalankan, apakah sama dengan jaman kita?dimana OSPEK dilalui dengan keringat, tangis, amarah, kesurupan dan berakhir dengan dendam yang akan dilampiaskan pada tahun berikutnya (juniornya) lalu dendam itu akan menjadi warisan turun temurun.

Ada kegiatan OSPEK yang dilakukan oleh universitas swasta, salah satu hal tidak pantas yang dilakukan oleh senior kepada juniornya adalah memberikan makanan anjing, entah apa maksudnya?apakah hanya gurauan?memangnya ini lucu?apakah mereka memang senang melakukannya tanpa alasan?tidak masuk akal kecuali mereka memang tidak normal…

Ada lagi, yang OSPEKnya baik-baik saja. Dilakukan di kampus, diawasi dengan baik, berjalan dengan baik, tidak keteraluan. Tapi nyatanya di akhir OSPEK yang mereka beri judul “perpisahan” dan dilaksanakan di tempat yang kayanya asik banget alias di luar kota ternyata lebih menyeramkan dari OSPEK itu sendiri (tahukan apa).

Suatu hari di suatu universitas swasta, terjadi perdebatan antara panitia ospek dan kajurnya. Sang kajur tidak menginginkan OSPEK dilakukan di tempat yang jauh dengan alasan tidak bisa dikontrol (mungkin kajurnya tahu apa saja yang biasa dilakukan oleh senior kepada juniornya ketika OSPEK) perdebatan itu melahirkan 2 kubu mahasiswa yang di OSPEK yang pertam di bawah pengawasan jurusan dan yang kedua di OSPEK secara ilegal alias diculik oleh para panitia OSPEK yang merupakan mahasiswa senior. Akhir dari cerita ini bukan lagi kekerasan/ketidakmanusiawian tapi sudah lepas kontrol, untuk kajurnya hadiah yang didapat dari komitmen mereka adalah cacian dan teror.

Jadi apa itu OSPEK?apakah masih pantas terus dilakukan?apakah begitu penting sehingga menjadi wajib?adakah alasan lain selain “pengenalan mahsiswa dengan dunia kampus/kemahasiswaan”?mengingat kita adalah manusia yang dapat beradaptasi dan bersosialisasi secara natural, tanpa Orientasi Mahasiswapun /OSPEK kita akan terbiasa dengan sendirinya dengan dunia kemahasiswaan/kampus.

Sekian, maaf klo menyinggung…

    • dcamz
    • Agustus 25th, 2008

    Ospek itu hanya wadah bagi senior utk melampiaskan dendam atas perlakuan yg mereka terima dari senior² sblmnya… Mgkin OSPEK ada tujuan lain utk pengenalan kampus, tp kalo di lihat di masa sekrg sdh di salah gunakan…
    Lebih baik hilangkan saja Ospek…OSPEK (Orang Sinting PakEnya Kekerasan..)😀

    Ourkami:saya setuju untuk dihilangkan, adakan cara lain untuk mengenalkan kampus lagian ga dikenalin juga nanti kenal sendiri. Saya pikir OSPEK itu Orientasi Siswa Pake Kekerasan ternyata Orang Sinting Pakenya Kekerasan ya hehehe…

  1. kemarin aku lihat sekumpulan maba di salah satu PTS lagi di ospek. kalo saya menyebutnya di kerjain. Kayak zaman penjajahan aja. Padahal itu semua tak ada hubungannya dengan kurikulum atau bidang studi di kampus itu.. kasian juga sebenarnhya tapi mau apa lagi… kayaknya mereka juga pasrah aja
    Salam

    Ourkami:Mungkin bukan pasrah tapi terpaksa. Dulu saya ga ikut OSPEK karna saya ngerasa ga butuh itu tapi trus saya diancam kuliahnya bakalan dikerjain ma senior hihihi so what…
    makasih ya atas komennya
    😉

  2. kalau opspek jaman dulu itu menyenangkan. tidak mengada ada, selesai opspek malah antara kakak kelas dan adik kelas akrab banget. hukuman yang diberikan juga masuk akal, tidak ada pemukulan karena niatannya baik. malah jadi kenangan manis kalo diingat ingat.
    Mungkin kalau sekarang sudah berbeda ya…
    apa karena tidak ada kontrol dari pihak kampus ? Saya kira dosen yang bertanggung jawab di bidang kemahasiswaan selalu dilibatkan di proses opspek ini.
    yaaa kalau memang sudah menjadi tempat balas dendam maka opspek tidak diperlukan lagi.

    Ourkami:rasanya sulit untuk merubah OSPEK lebih baik ada tindakan tegas dari kampus untuk meniadakannya/OSPEK itu sendiri dipegang penuh oleh pihak kampus.

    • dcamz
    • Agustus 28th, 2008

    ho’ohhh..jadi bingung..???? 😕

    Ourkami: ^_^!

  3. menurut saya tergantung konsep dari ospeknya sendiri…. kalao memang konsepnya bagus dengan pengawasan yg ketat tetapi juga tdk membosankan ya kena tidak dilaksanakan ospek tersebut dengan memandang norma-norma agama dan kesusilaan.. jadi untuk panitia ospek sebaiknya diseleksi terlebih dahulu…. dan penyeleksian pun harus dilakukan oleh yg benar2 kompeten….

    Ourkami:pengumuman untuk para mahsiswa/panitia ospek sekarang/akan datang mohon saran ini dipertimbangkan,dipikirkan dengan serius 🙂

  4. bingung…brbagain sie di kpanitiaan udh sy jalanin..tp ksulitan bwt ngrubah konsep dari feodalisme ke pengadaptasian kebudayaan sekarang mngenai ospekan tuh susah bgt,,sy masih kalah argument dri org”penganut senioritas..yg sy pndng,ospekan tuh mlh jadi ajang aktualisasi diri para senior yang pgn ttp eksis..n g pcaya ma para kadernya..sbnrny masih pantas g c,pnerapan konsep TATIB di dunia pendidikan..??pengenalan kmpus yg seharusnya ngasih image yg bae di pnyambutan maba..

    Ourkami:guru saya pernah bilang dengan gaya bergurau tapi serius “merubah sesuatu yang sudah jadi budaya itu sulit keculi qta menunggu orang yang menganggap budaya itu patut dilestarikan meninggal baru qta bisa merubahnya” (hanya perumpamaan).
    bukankah seharusnya yang mayoritas itu bisa menang lawan yang minoritaskan, tapi prinsip senioritas beda ya. Tapi saya tetap yakin keingginan kuat u/membalas apa yang pernah mereka trima itulah faktornya

    • dcamz
    • September 3rd, 2008

    ooooo….. baru tau..???

  5. Tapi saya tetap yakin keinginan kuat untuk membalas apa yang pernah mereka terima itulah faktornya.
    Setujuuuu….
    Balas dendam memang jadi budaya. Entar kalo aku mati baru istilah budaya balas dendam juga bisa diganti ya.
    lam knal

    Ourkami:hahaha…termasuk saya juga dong, soalnya saya juga menganggap itu budaya, budaya yg harus dihilangkan.
    maksud saya dgn kalimat “merubah sesuatu yang sudah jadi budaya itu sulit keculi qta menunggu orang yang menganggap budaya itu meninggal baru qta bisa merubah” itu maksudnya org yg menganggap budaya ospek seperti itu masih perlu dan penting
    lam kenal juga
    🙂

    • shinji
    • September 29th, 2008

    Liat aja negara2 maju, kenapa mreka ga ada ospek? Cuz ospek seperti di indo menyimpang dari tujuan utama, bukannya mempersiapkan murid ke dunia belajar melainkan untuk mempersiapkan murid melakukan perang, rusuh and kekerasan. Gw skul di Singapore n skrg d US ga pernah ngalami orientasi scara paksa, apalagi melalui hukuman2 yg ga jelas. Orientasi dsini bner2 memperkenalkan murid kpd lingkungan belajar yg baru spt bagaimana mengambil mata kuliah, lokasi2 penting di kampus, dsb. Gw kasihan ngedengerin cerita dari tmen2 gw di indo and adek gw sendiri, knapa masa orientasi dbuat seperti hell. Kalau soal menjalin hubungan “pertemanan”, diluar ospek pun mahasiswa pasti bisa scara alami melalui adaptasi dgn lingkungan. Indo dah pada saatnya meng-adopt system baru, bukannya berkutat n makin terjerumus ke system prasejarah ala militer. There’s a better way to do it, then why not?

    Ourkami:stuju banget
    salah satu hal yg selalu saya bilang sama temen2 asal kita bersatu untuk bilang ‘tidak mau ospek seperti itu/tidak mau diperlakukan seperti itu’ kita bisa kok u/merubahnya.Tapi itu gak berguna, toh mereka tetap takut.
    perubahan harus ada

  6. Ospek itu diibaratkan seperti sebuah halaman rumah. Halaman itu pun berbeda-beda, ada yang indah penuh dengan bunga atau pun tanaman. Ada pula sebuah halaman yang kotor, berdebu, seperti tidak ada yang urus.

    Pertanyaannya adalah perlukah Ospek ditiadakan? Saya sara tidak perlu, karena yang bikin ulah bukan kata “Ospek” tersebut, tapi orang-orang/para senior yang berada di dalamnya.

    Yang diperlukan hilangkan adalah ego atau senioritas yang ada. Toh kalau ini dijalankan Insya Allah Ospek bukan lagi ajang balas dendam.

    Ourkami:setuju!!!

  7. fakta dan pendapat yang bagus, izin copas sedikit untuk artikel pemula saya.. akan saya sertakan sumbernya😀

    ok :monggo…

    • ALFI
    • September 17th, 2011

    orientasi? komunikatif? nomatif? akademis?
    apa benar membebankan MaBa dengan serba-serbi yang terlihat tolol itu sebagai bentuk pengenalan?
    gue rasa semua orang sudah jauh terlebih dulu melewati masa2 semacam MOS sebelum menduduki bangku perkuliahan. OSPEK adalah pembodohan diluar akademis! SETIAP MAHASISWA TELAH MEMBAYAR MAHAL dengan tujuan u/ MENDAPATKAN ILMU DAN GELAR!
    jadi terlihat jelas, ospek hanyalah ajang EKSISTENSI & BALAS DENDAM bagi sebagian senior…!!!
    Gue sebagai seniorpun gak akan pernah mengiyakan hal2 semacam itu apalagi di BANGKU PERKULIAHAN!!! Kita manusia, dibekali otak, apalagi setelah 9 TAHUN sebelumnya BERSEKOLAH!!!
    gambar diatas baru contoh kecil. BETAPA TERLIHAT BODOHNYA SESEORANG DIBAWAH PENGAWASAN SENIOR!
    CARA YG TEPAT ADALAH: SEMINAR DENGAN MENGGANDENG PARA MABA U/ AKTIF DALAM DISKUSI KAMPUS. (BERSIFAT MENGGANDENG*KEKELUARGAAN). Contoh diatas jelas tidak menggandeng bukan? Karena jelas ada gate yang mengharuskan maba mengikuti apa yang diperintahkan senior!!!

    AYOLAH BERFIKIR MAJU DAN REALISTIS!!!!!!
    KEDEWASAAN SEORANG MAHASISWA NOTHING ARTINYA KETIKA DENGAN KLAIM SENIOR LO BS MEMBUAT SESEORANG MENJADI PATUH DAN TUNDUK SEPERTI BADUT TOLOL!!!

    STOP TO MANAGE!!!
    KITA SEMUA MEMILIKI TUJUAN SAMA! KITA SEMUA MEMILIKI STRATA YANG SAMA! KITA SEMUA TELAH MEMBAYAR MAHAL!!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: