fiksi#1: Death Whisper

PROLOGUE

Talkrik Village, Germany : July 13, 1943

Suasana desa kecil Talkrik di German Utara malam itu sangat sepi. Tidak ada cahaya yang nampak sama sekali, seakan desa itu sudah tidak berpenghuni lagi. Namun salah satu pintu terbuka, menampakkan sosok seorang pria Kaukasian berumur sekitar 35 tahun dengan mantel coklat tua yang lusuh. Ia memperhatikan keadaan luar sejenak, kemudian bergerak perlahan keluar menuju gerbang desa. Ia menghentikan langkahnya saat menyadari ada sosok mungil mengikuti langkahnya: seorang gadis kecil dengan pakaian tak kalah lusuhnya. Berbeda dengan pria di depannya, gadis Timur Tengah itu terlihat sangat rapuh; rasa takut jelas terpancar dari matanya.

Sang pria tersenyum dan memberikan mantelnya kepada gadis tersebut. Dengan isyarat tangan, ia memintanya kembali ke dalam rumah. Tanpa menunggu, pria tersebut melesat memasuki hutan belantara, meninggalkan sosok kecil yang memanggil namanya dengan sedih. Tak lama setelah pria itu menerobos lebatnya Hutan Hitam Jerman, muncul beberapa sosok berjubah yang mengepungnya. Tidak ada emosi yang terpancar dari wajah orang – orang tersebut, seakan mereka hanyalah boneka dengan satu tujuan pasti.

Pria Kaukasian itu kembali tersenyum, namun kali ini dia tahu itu akan menjadi senyum terakhirnya……

Malam itu, angin dingin berhembus dari utara, menembus Hutan Hitam menuju desa Talkrik, menyampaikan pesan kepada gadis cilik yang tengah menangis di gerbang desa. Pesan yang dibalut dengan merahnya darah manusia……

ACT I

REQUIEM OF BETRAYAL

NIGHT OF NEVER ENDING SADNESS……

IN OUR MOTHER’S BLESSED NAME, I AM OFFERING TO YOU MY PRAYER

FOR THE NEW ERA, FILLED WITH HOPE…

FOR THE NEW RESOLUTION, FILLED WITH HAPPINESS…

FOR THE NEW LIFE, FILLED WITH DREAM…

NIGHT OF NEVER ENDING SADNESS……

IN OUR LORD’S SACRED NAME, I AM OFFERING TO YOU MY LIFE.

JAKARTA: FEBRUARY 23, 20XX

Pagi ini menjadi hari yang mengesalkan bagi Budi Hartanto, seorang mahasiswa jurusan Teknik Sipil sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Bukan saja ia terlambat bangun dan tersandung barang – barang yang berserakan di lantai kamarnya, Budi juga harus memasak terlebih dulu karena hari ini adalah gilirannya. Memasak bukanlah hal yang disukainya, tapi semenjak sang ayah meninggal dan ibunya masuk rumah sakit karena kanker, Budi dan adiknya, Doni, bergantian mengurus rumah. Doni berbaik hati membersihkan rumah, meski hari ini bukanlah gilirannya.

“ Aku berangkat dulu. Sudah telat nih! “, ujar Budi bergegas.

“ Ah, kak! Jangan lupa, kita harus membayar biaya perawatan Ibu untuk bulan ini “.

“ Ah, besok kau saja yang urus. Aku agak sibuk belakangan ini “.

Budi segera mengejar bus umum yang biasa ia tumpangi menuju kampus. Hanya saja kali ini dia kecewa karena tidak mendapati Mina Hamaria, teman sekelas dan pujaan hatinya, berada di bus tersebut. Sudah lama Budi jatuh hati pada gadis itu. Mina tinggal tak jauh dari rumahnya, dan karena Budi tahu kebiasaan Mina yang berangkat menggunakan bus umum pada waktu yang tetap, dia selalu naik bus yang sama dengan sang pujaan, kecuali tentu saja hari ini. Budi hanya bisa memaki dalam hati.

Sesampainya di kampus, Budi segera disambut dua sahabatnya, Tono Martono dan Ari Bartani. Hal pertama yang keduanya lakukan tentu saja menggoda Budi yang pagi ini tidak datang bersama Mina. Meski kesal, Budi tidak membalas. Ia meninggalkan kedua sahabatnya dan berjalan ke ruang kelas. Pelajaran pertama adalah Bahasa Inggris dengan pak Daryo yang galak, jelas membuatnya makin down, tapi apa mau dikata…

Saat memasuki kelas, Budi mendapati Mina tengah berbincang dengan beberapa teman seangkatannya, tampaknya mengenai rencana pesta ulang tahun Mina besok. Alangkah bahagianya Budi jika saja dia diundang ke pesta tersebut, namun mana mungkin itu terjadi? Dia dan Mina tidaklah dekat. Meski Budi menyukainya, ia belum pernah sekali pun mengutarkan perasaannya pada gadis tersebut. Dia hanya berani berangan – angan menjadi pangeran tampan dan kaya raya yang mampu memikat tuan putri Mina.

Pak Daryo memasuki kelas dan suasana menjadi hening. Pelajaran pun dimulai…

………………………………………………………………………………

Akhirnya waktu untuk istirahat tiba. Budi berjalan sempoyongan menuju taman kampus tempat deretan kantin makanan berada. Ia sudah menduga bahwa para mahasiswa yang tengah beristirahat pasti akan memadati tempat itu, namun ia cukup beruntung karena masih mendapatkan satu meja kosong untuk dirinya.

Ketika tengah menikmati makan siangnya, Budi melihat seorang gadis berjilbab berjalan tak jauh darinya, kebingungan mencari tempat kosong untuk makan. Ia mengenalinya; Annisa Fatamia, mahasiswi Fakultas Hukum pindahan dari Swiss, European Empire, yang juga sahabat Mina. Annisa sebenarnya termasuk siswi yang terkenal: dia cantik, cerdas, ramah, dan putri angkat dari diplomat terkenal Empire, Lloyd Eldia Hellingway. Sayang kepribadiannya sangat tertutup dan pendiam, terlebih dia seorang muslim, membuat sebagian orang – termasuk Budi – menjaga jarak darinya. Meski begitu, tanpa pikir panjang Budi memanggil nama sang gadis dan menawarkannya tempat duduk di mejanya. Annisa tentunya agak kaget. Ia dan Budi tidak pernah berbincang sebelumnya meski keduanya pernah beberapa kali bertemu di kelas, namun Annisa tak punya alasan menolak kebaikan hati rekan seangkatannya itu.

“ …………Terima kasih telah mengizinkan saya makan di sini “, kata Annisa agak membungkuk hormat.

“ Jangan sungkan. Kita kan seangkatan… “, Budi mencoba seramah mungkin.

“ ……………… “.

“ ……………… “.

“ ……………… “.

“ ……………… “.

“ ……………… “.

“ …… Ah, Annisa. Bolehkah aku bertanya? “, Budi yang mulai tak tahan memecah keheningan.

“ ………………? “, Annisa menghentikan makannya dan menunggu.

“ Emm…… Apa kau datang ke ultah-nya Mina besok? “.

“ ……… Dia memaksa saya datang. Karena Ibu tak keberatan, jadi Insya Allah saya akan datang “.

“ ……… Ah, begitu rupanya “, Budi agak gusar dengan nada bicara Annisa yang datar.

“ ……… Budi sendiri bagaimana? Apakah akan datang juga? “.

“ Ah, sayangnya aku – “.

“ HAYOO!! Lagi ngapain berdua?!! “, Mina tiba – tiba muncul dan langsung memeluk Annisa dari belakang. Belum sempat rasa kaget hilang dari benak Annisa – dan Budi – Mina memberikan light bite ke sisi jilbab Annisa yang menutupi telinga kirinya, membuat sang muslimah hampir berteriak kaget. Budi terlalu shock melihat sikap Mina sehingga dia sama sekali tidak bereaksi.

“ Jadi, apa kau mencoba merebut Nisa – chayank dariku, Bud? “, Mina akhirnya mengalihkan pandangannya ke Budi setelah berhasil mengunci mati Annisa yang mencoba melepaskan diri.

“ B – B – Bukan begitu! A – Aku hanya menawarinya tempat duduk karena tidak ada tempat kosong lagi! Suwer deh!! “. Jawab Budi panik.

“ Hmmm……Kalo itu sih gak papa. Oh ya Bud, jangan lupa datang ke pestaku besok ya! “, Mina menyodorkan surat undangan beramplop merah muda ke Budi.

Jantung Budi seakan berhenti berdetak. Ia mendapatkannya! Undangan ke pesta ultah Mina yang disukainya, langsung dari yang bersangkutan!! Sekuat tenaga ia menahan keinginannya untuk berteriak senang, lalu mengambil surat undangan itu dengan tangan gemetar. Mina tersenyum misterius saat itu. Tanpa berkata lagi, dia menyeret pergi Annisa yang telah kehabisan tenaga. Annisa sempat berpamitan pada Budi, tapi cowok itu tak menyadarinya. Setelah yakin keduanya tidak nampak lagi, barulah Budi berteriak kegirangan, membuat semua orang di taman menatapnya dengan tatapan heran.

………………………………………………………………………………

Budi terlampau gembira sepanjang hari itu sehingga dia tidak segera menyadari permasalahan lain yang menunggunya: dia tak punya uang untuk membelikan Mina hadiah! Ia tersadar setelah Tono dan Ari menanyainya soal hadiah apa yang akan dia berikan pada Mina. Ingat bahwa kedua temannya juga sedang mendekati Mina, Budi sesumbar akan membelikannya boneka raksasa yang memang menjadi kesukaan sang gadis. Kini, setelah tiba di rumah, Budi mulai uring – uringan memikirkan cara mendapatkan uang dalam jumlah banyak dengan cepat, mengingat semenjak European War harga boneka raksasa terbilang luar biasa mahal.

“ Kakak kenapa? Kok makannya dikit? “, Doni yang semenjak tadi mengamatinya mulai khawatir.

“ …Ah tidak. Masalah di kampus… “, Budi coba mengelak.

“ …Tadi rumah sakit nelpon, katanya Ibu harus dioperasi besok, jadi mereka perlu pelunasan biaya sebelum memulainya…”, lanjut Doni agak ragu.

Budi tersentak kaget. Itu dia! Uang pembayaran biaya perawatan Ibu! Itu satu – satunya uang dalam jumlah besar yang masih ada. Jika memakai itu, pasti bisa membeli hadiah boneka yang mahal buat Mina, pikir Budi dalam hati.

“ K – Kak, kau yakin baik – baik saja? “.

“ Ah, I – Iya… Don, uang buat bayar biaya perawatan kau yang pegang kan? “.

“ I – Iya benar. Kakak sendiri yang bilang agar- “.

“ Berikan padaku. Besok biar aku saja yang pergi ke rumah sakit “.

“ Kakak yakin? Biar aku saja, toh Kakak sibuk… “.

“ Tidak, tidak apa – apa. Aku ada waktu kok “, Budi agak memaksa. Meski ragu, Doni akhirnya menyerahkan uang tersebut pada sang kakak. Budi hanya tertawa dalam hati. Dengan ini dia tak perlu khawatir lagi soal pesta besok. Untuk amannya, malam itu Budi diam – diam menelpon pihak rumah sakit, meminta penundaan operasi dengan alasan biaya. Meski tidak menyarankannya, pihak rumah sakit terpaksa menunda operasi sesuai permintaan Budi.

…………………………………………………………………………………………………………

Keesokan harinya, Budi meninggalkan rumah lebih awal dari biasanya. Ia sudah berpesan pada Doni bahwa dia akan pulang larut malam karena ada urusan lain. Dia sudah berencana untuk membeli hadiah bagi Mina usai kuliah siang nanti, lalu berganti pakaian dan bersiap – siap di rumah Ari. Ia harus menghindari kecurigaan Doni, jadi tidak mungkin baginya untuk pulang dan bersiap – siap di rumah.

Hari itu semuanya berlangsung lancar. Menjelang sore, Budi berangkat ke pusat perbelanjaan di pusat kota. Ia ingat sebuah took mainan yang menjual boneka besar. Tak perlu waktu lama bagi Budi memilih boneka yang cocok. Setelah dibungkus rapi oleh penjaga toko, Budi bersiap menuju rumah Ari. Namun, ditengah jalan, ia bertemu dengan Doni dan teman – teman yang baru saja pulang sekolah.

“ Kakak? Sedang apa disini? Lalu, benda apa yang Kakak bawa itu? “.

“ Ah, ini… B – Bukan apa – apa kok! “, jawab Budi panik. Sayangnya kartu ucapan selamat untuk Mina terlihat oleh Doni. Sang adik tahu betul bahwa Budi sudah lama menyukai gadis tersebut. Ia pun menyadari apa yang sebenarnya terjadi..

“ Kak, dimana uang buat biaya operasi Ibu? “.

“ I – Itu… “.

“ Kak!! Jangan bilang Kakak memakainya untuk membeli hadiah buat kak Mina! Ibu perlu uang itu, Kak!! Tega sekali…. “.

“ Ah, diam!! “, Budi lepas control dan menampar Doni hingga jatuh tersungkur. Tanpa pikir panjang, ia segera menaiki taksi yang tengah berhenti di dekat situ dan pergi. Teman – teman Doni mencoba menghentikannya namun sia – sia.

Saat itulah telepon genggam Doni berbunyi. Sebuah panggilan dari rumah sakit, dengan kabar yang menghancurkan hati….

Sesaat setelah doni menerima kabar buruk tersebut, teleponnya kembali berdering. Di layar telepon menunjukkan huruf – huruf aneh, diikuti angka ‘666’. Meski dicegah teman – temannya, Doni tetap menerima telepon misterius itu.

“ ……… Apa yang paling kau inginkan saat ini? “, suara berat di seberang menyambutnya. Sesaat setelah mendengarnya, sebuah seringai mengerikan muncul di wajah Doni…

………………………………………………………………………………………

“ Oi Bud, kamu yakin gak sedang ada masalah? Wajahmu kok gelisah seperti itu? “, ujar Ari di kursi sopir.

Hari sudah malam. Budi dan Tono tengah naik mobil Tono yang dikemudikan Ari. Sejak tiba di rumah Ari tadi, Budi memang terlihat gelisah sehingga membuat kedua temannya khawatir.

“ Gak kok. Gak ada masalah apa – apa… “, untuk kesekian kalinya Budi kembali memberi jawaban yang sama seperti sebelumnya. Kedua temannya hanya menghela napas panjang.

“ Ya udah kalo gak mau bicara, Sob. Tapi ingat, nanti kamu pulang sendirian soalnya kami berdua mau ampe pagi di rumah Mina. Nyari mangsa, mumpung bokap nyokap – nya lagi gak ada “, timpal Tono dengan wajah usil.

“ jangan khawatir deh, kami janji gak gangguin Mina ama Annisa. Biar mereka buat lu aja, Sob! “, imbuh Ari tak kalah usil.

“ Enak aja! Ngapain kalian bawa – bawa Annisa segala? “, tukas Budi.

“ Loh, kamu kan yang kemarin ngobrol bareng dia di taman? Itu baru pertama kalinya dia mau bicara ama cowok! Wajar aja kalo sekarang orang – orang mikir kamu ada hubungan khusus dengan dia! “.

Budi berpikir sejenak mendengar jawaban Ari tersebut, tapi ia tidak lama memikirkannya karena mereka telah tiba di rumah Mina.

…………………………………………………………………………

Seperti yang telah diduga, banyak orang yang menghadiri pesta tersebut. Kebanyakan adalah teman – teman Mina di kampus, sisanya anak – anak dari rekan dan sahabat kedua orangtua Mina: artis, pejabat, dan orang terkenal lainnya.

Mina tampak memukau malam itu. Gaun perak panjang dengan ornamen – ornamen batu mulia tersebar di hampir semua bagian gaun. Sepatu kaca, gelang platina, dan perhiasan mahal lainnya turut menghiasi tubuhnya. Ia berdiri di tengah aula rumahnya, menyambut para tamu dan menerima ucapan selamat sembari memeluk erat sahabatnya, Annisa Fatamia. Berbeda dengan tamu – tamu perempuan lainnya yang tampil seksi, pakaian Annisa terbilang biasa dan, menurut kebanyakan orang, membosankan: jilbab hitam panjang, baju krem longgar dipadu rompi, dan rok panjang hitam. Meski begitu, Mina sama sekali peduli. Baginya, kehadiran Annisa mungkin adalah satu – satunya alasan pesta ini diadakan.

“ Selamat ulang tahun, Mina “, Budi akhirnya berkesempatan memberikan ucapan selamat pada sang tuan rumah.

Thank You, Bud. Senang kau dan teman – temanmu bisa datang. Silakan nikmati pestanya “, jawab Mina sopan. Tangan kirinya masih sibuk mengunci Annisa, membuat gadis malang itu tak bisa membalas salam dari tamu lainnya. Budi tak bisa berkomentar lebih lanjut.

Pesta berlangsung dengan meriah sepanjang malam itu. Annisa akhirnya terbebas dari cengkraman Mina setelah banyak tamu mulai mengajak sang tuan rumah berdansa atau sekedar mengobrol. Budi sendiri mendapat kesempatan berbincang lama dengan pujaan hatinya. Terlalu lama sehingga dia lupa waktu…

……………………………………………………………………………….

Budi hanya bisa mengumpat dalam hati. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 2 pagi. Kendaraan umum dan bus sudah tidak ada lagi yang melewati rumah Mina menuju tempatnya. Berjalan kaki bukan pilihan bijak, karena meski tidak terbilang jauh, jalanannya rusak dan penuh genangan air, sangat tidak cocok buat berjalan kaki. Kedua temannya masih belum mau beranjak dari tempat pesta, jadi tidak bisa diandalkan. Taksi ataupun ojek juga tak terlihat sepanjang jalan itu…

Mendadak telepon genggamnya berbunyi. Budi kaget bukan kepalang karena dia yakin sudah mematikannya sejak bertemu dengan Doni tadi. Saat dilihat, layarnya menunjukkan huruf – huruf aneh diikuti angka ‘666’. Meski heran dan takut, Budi memutuskan mengangkatnya.

“ …Apa yang paling kau inginkan saat ini? “, terdengar suara berat dan dingin dari seberang . Entah kenapa Budi merinding mendengar suara itu, namun ia mencoba berani dan menjawabnya.

“ A – Aku ingin mendapat kendaraan untuk pulang… “, jawabnya ragu – ragu.

“ …Pergilah 50 meter ke utara, menuju kuburan tua Demilin. Tunggulah sebentar, nanti ada bus yang lewat menuju tempat tinggalmu “, bersamaan dengan itu sambungan diputus oleh sang pria. Budi berpikir cukup lama, apakah dia akan melakukan seperti yang diaktakan pria misterius tersebut atau tidak. Akhirnya setelah yakin tak ada pilihan lainnya, ia pun berjalan menuju kuburan tua Demilin.

Budi baru sampai di tembok luar pekuburan tersebut saat sebuah bus melintas pelan di dekatnya. Tanpa pikir panjang, ia segera menghentikan bus tersebut dan naik kedalamnya.

Keadaan di dalam bus ternyata terbilang ramai. Terdapat sekitar 37 orang penumpang tengah duduk diam, tanpa suara sama sekali. Sopir dan kondektur bus pun terlihat tanpa semangat, atau lebih tepatnya tanpa emosi.

“ Pak, ini lewat perumahan Taruna Jaya tidak? “, tanya Budi kepada sang sopir. Si sopir hanya mengangguk pelan, kemudian kembali memacu kendaraannya. Agak khawatir, Budi memutuskan duduk di kursi urutan tengah yang memang kosong.

“ Kakak tidak seharusnya naik bus ini “, sebuah suara terdengar dari kursi belakang sang pemuda. Pemilik suara tersebut ternyata seorang anak kecil, berusia sekitar 12 tahun dengan mengenakan kaos hitam bergambar tokoh sebuah film kartun.

“ Apa maksudmu, adik kecil? “, Budi menatapnya heran.

“ Kakak tidak seharusnya mendengarkan orang itu. Kakak harus segera turun sebelum terlambat! “, anak itu terdengar memaksa. Belum sempat Budi bertanya lebih lanjut, bus berhenti dan seseorang naik. Budi kaget melihat Annisa masuk ke dalam bus. Setengah berteriak, ia memanggil Annisa dan menawarkan tempat duduk disebelahnya.

“ Benar – benar kebetulan yang aneh ya? “, ujar Budi.

“ …Begitulah. Saya lupa pada jam sekarang sudah tidak ada kendaraan umum yang lewat lagi. Untung saja masih ada bus ini… “.

“ Kenapa tidak minta diantar saja? Aku yakin Mina tidak akan berkeberatan “.

“ Saya tidak ingin merepotkannya. Dia masih sibuk melayani para tamu. Sebenarnya saya ingin menemaninya sampai pesta usai, biar dia tidak terlalu kesepian, tapi saya sudah berjanji untuk pulang, maka… “, Annisa tidak melanjutkan kata – katanya. Budi melihat kesempatan untuk mengenal lebih jauh gadis alim tersebut, dan dia tidak menyia – nyiakannya.

“ Nisa, jika boleh kutanyakan: darimana asalmu? Katanya kau dari Swiss, tapi wajahmu lebih mirip wanita dari Timur Tengah, Arab mungkin? “, tanya Budi penasaran.

“ Saya… tidak tahu. Saya tidak punya ingatan semua hal sebelum Ibu… maksud saya Duta Besar Lloyd, mengadopsi saya sepuluh tahun lalu. Beliau bilang bertemu saya di sebuah desa perbatasan antara Perancis dengan Spanyol, tapi beliau juga yakin saya berasal dari Timur Tengah… “, raut wajah Annisa terlihat agak sedih saat membicarakan masa lalunya. Budi merasa tak enak, namun ia beruntung karena bus berhenti dan kondektur menyerukan alamat tempat tinggal Annisa.

“ K – Kalo begitu sampai ketemu besok! Mungkin kita bisa ngobrol lagi lain waktu? “, ujar Budi. Annisa hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya turun dari kendaraan tersebut.

“ Kau harusnya turun bersama kakak tadi. Kini semuanya sudah terlambat “, anak kecil yang duduk di belakang Budi kembali bersuara setelah bus berjalan lagi. Budi agak kesal mendengarnya, namun ia memilih tidak mengacuhkannya. Saat itulah dia sadar bahwa semua jendela di bus tersebut dicat hitam. Ia tidak bisa melihat keluar, demikian juga sebaliknya. Semua penumpang lain juga tidak bergerak sedikit pun dari tempat mereka, seakan mereka semua hanyalah patung. Bulu kuduk Budi mulai berdiri.

“ A – Apa… apa yang terjadi di sini? Si – Siapa sebenarnya kalian ini??! “, rasa panik mulai menyerangnya. Belum sempat anak kecil itu menjawab, bus kembali berhenti. Kali ini seorang pria dengan mantel coklat gelap mendekati tempat Budi duduk dari arah depan. Meski postur tubuh dan wajahnya agak tertutup oleh mantel yang dikenakannya, Budi merasa yakin pria itu bukan berasal dari Indonesia…

“ Perumahan Taruna Jaya, silahkan turun. Jangan lupa melihat kaca spion, siapa tahu ada kendaraan lewat dari belakang… “, ucapnya dengan suara berat. Budi tidak terlalu mendengarkannya dan buru – buru menuju pintu depan.

“ Jangan! Jangan melihat kaca spion itu!! “, ujar anak kecil itu. Namun terlambat, Budi sudah terlanjur melihat kaca yang dimaksud.

Apa yang Budi lihat di kaca itu bukanlah tampilan dirinya saat ini. Ia melihat tubuhnya hancur dan dipenuhi darah, wajahnya remuk, tulang – tulang menembus keluar dari balik daging dan kulitnya, lebih tepat disebut onggokan daging daripada manusia. Dengan jeritan histeris, Budi melompat turun dari bus. Ia tak menyadari sebuah truk melaju kencang dari arah belakang. Sopir truk mencoba menghentikan kendaraannya tetapi tubuh Budi sudah terhantam dan tergilas tanpa ampun….

……………………………………………………………………………….

ONE HOURS LATER

Polisi tengah sibuk mengamankan lokasi kejadian. Sopir truk, masih shock atas apa yang terjadi, tengah ditenangkan oleh seorang polwan dan petugas medis. Tidak ada yang terlalu memperhatikan saat seorang pria berambut pirang panjang memasuki lokasi.

“ Ah, Komandan. Anda sudah tiba “, ujar seorang perwira yang menjadi pemimpin tim pemeriksa.

“ Apa yang kau dapatkan? “, pria yang dipanggil komandan bertanya sembari melihat mayat Budi yang tengah dievakuasi dari bawah truk.

“ Korban bernama Budi Hartanto, mahasiswa Teknik Sipil di perguruan tinggi Antama. Sopir truk mengaku korban tiba – tiba meloncat ke depan truknya, padahal sebelumnya sopir mengaku jalanan kosong tidak ada apa – apa. Kami masih memeriksa apakah sopir tersebut tengah mabuk atau mengantuk “.

“ Apa keluarga korban sudah diberitahu? “.

“ …Ibu korban meninggal tadi siang karena kanker. Adik beliau, ketika polisi menemuinya di rumah, berbicara dan bertingkah aneh. kami sudah membawanya ke RSJ Atam Jaya untuk diperiksa “.

Komandan tersenyum dingin. “ Apa ada saksi mata? “, tanyanya.

“ …Ada yang mengaku melihat korban turun dari bus Halimun Raya yang mengalami kecelakaan tiga bulan lalu di jembatan Hartanta, 10 meter dari sini…”.

“ Oh? Kecelakaan yang menewaskan 36 penumpangnya, termasuk juga sopir dan kondektur bus itu? “.

“ Betul, tapi ada satu korban lagi. Seorang anak berusia 12 tahun bernama Nandra Matali. Laporan mengatakan kalau Nandra, sejak siang sebelum kecelakaan, berdiri di tepi jembatan tempat bus menabraknya kelak. Ia juga melarang orang – orang berada di dekat jembatan, seakan dia sudah tahu akan ada kecelakaan… “.

Komandan kembali tersenyum. Kecurigaannya telah terbukti sekarang. Ia memerintahkan semua barang bukti, termasuk mayat Budi, dibawa ke suatu tempat. Komandan kemudian menghubungi seseorang, mengatakan bahwa ‘orang itu’ memang ada di Indonesia, dan meminta agar orang – orangnya segera dikirim ke Indonesia. Sesaat setelah menutup telepon, ia bergumam lirih, “ Akhirnya aku menemukanmu, ‘ Death Whisper ‘…”.

Chapter I End

karya kesekiannya seseorng yang namanya gak mau disebutkan, tapi maaf cousin: “aku gak bisa membiarkan seseorang berfikir ini adalah karyaku, kau memiliki kemampuan tapi kau ingkari, semoga komen kawan kita (bloger) bisa membukakan hati dan matamu”. Namanya Billy, kawan

“hmmm…jadi pengen ikutan bikin, kapan2 aja ah…jiakakakak…”

    • muftialy
    • Februari 3rd, 2009

    Bagus juga…
    kalau chapter 2 sudah siap.. aku diberitahu ya…

    Ourkami:Siippp, aku lagi maksa2 orgnya buat bikin nih, bantuin dong😛

    • heri
    • Februari 3rd, 2009

    haduh panjang… simpen dulu baca di rumah😀

    Ourkami:hehehehe…klo lehernya udh pegel bilang ya pak heri..🙂

  1. wuiiiiiihhhh….panjang benerrrrrrrrrr…:mrgreen:
    di laminating ah buat kenang²an ya mbak cinta..?😉

    Ourkami:jangan lupa dikasih bingkai trs dipanjang ya mas arjuna hihihihi…

  2. Cerita yang bagus … apakah nggak berminat untuk dijadikan Novel …?! sepertinya Anda berpotensi …
    Salam dari Belgia….

    Ourkami:maunya dijadiin novel tapi gak tau sapa yg nerbitin hehehehe…makasih komennya bang🙂

  3. Salam kenal…😀

    Ourkami:salam kenal juga, salam silaturahmi…🙂

  4. satu saat harus bikin buku novel nih mbak..

    Ourkami:bukan…bukan aku, tapi Billy…

  5. aku save aja ya.. ga sempet kalo harus baca di kantor

    Ourkami:boleh…klo udh dibaca ksih komen ya..

  6. Wah kirain mulai bikin novel nih….
    Ha..ha..ha.. ternyata karangan orang…
    Ayo kapan mau bikin fiksi sendiri..hi..hi…hi….
    Gak sempet yah…. hi..hi..hi…
    Good work deh…

    Ourkami:yahhh…diskak mat, haxhaxhax…

  7. Tapi judulnya itu lho syemmm abizz kayak iklannya XL… wikikikik….

    Ourkami:buat nakut2in anak yg nakal👿

  8. terus berkarya…
    itu akan membuat kita seLaLu berdiri..

    Ourkami:maksih sudah di semangatin

  9. Weehhh… ceritanya bagus ouy…

    Ourkami:tuhkan…tuhkan…benerkan ceritanya bagus…

  10. hhmmm sampai ga bisa mengedip saya bacanya

    Ourkami:hehehehehe…jgn lupa nafas mas

  11. wah, bagus juga…. mas billy ya? kenapa gak nge blog juga? bagus lho… beneran…🙂

    Ourkami:iya, pedahal udh planningnya mau dibikinin blog sendiri tapi katanya numpang aja hihihihi…

  12. panjang

    maka saya ulurkan salam aja

    Assalamualaikum

    Ourkami:waalaikumsalam…
    ulurannya aku terima mas

  13. sekarang musim monolog ya😀 ato musim bikin cerpen?

    mas didin ternyata juga bikin🙂

    ntar dikumpulin jadi ebook bareng2:D

    sippp

    Ourkami:musim panas mendadak ujan pak, suer…

  14. hmm…
    saya bacanya musti bolak-balik nih..
    ga ngarti

    Ourkami:jgn dibolak-balik mas soalnya belakang kertasnya kosong😛

  15. bagus ceritanya.

    Ourkami:aku juga pikir gitu..

    • Itmam Aulia
    • Februari 7th, 2009

    puanjangnya….. sampai2 hampir ga berkedip nih mata…🙂 ditunggu episode berikutnya!!!

    Ourkami:tapi masih inget nafaskan mas, hihihihi…

    • Hafid Algristian
    • Februari 8th, 2009

    nice, nice!
    bagus…

    aku simpen boleh? buat arsip pribadi, sapa tau diterbitin beneran, kan ga susah-susah bli novelnya…

    hoho…

    salam kenal, yah. sukses slalu untukmu…😉

    eh, mba ok, boleh tukeran link? terimakasih😀
    http://algristian.wordpress.com

    Ourkami:boleh..boleh…copy aja, boleh…boleh…ambil aja linknya..amin moga2 kesampean jdi aku bisa minta bayaran karna ikt bqn terkenal hehehehe
    salam kenal juga,

    • FAHMY
    • Februari 9th, 2009

    assalamualaikum wr wb

    salam kenal…

    alhamdulillah akhirnya selesai juga perjuanganku tuk mbaca nih novel. makasih ya… mbak klo ada novel lagi tolong bacain ya… please.

    Ourkami:waalaikumsalam,
    salam kenal juga ya…
    jiaa…malah minta dibacain…
    ^^!

  16. Hi friend.. Interesting post.. Keep up the good work.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!

    Ourkami:hi,thanks to read Billy story and visit my blog. Nice to meet you🙂

  17. Bagus.. Bagus..
    Billy-nya mana?😛

    Ourkami:hihihihihi….Billy nya pasti ngumpet, wahh…dia sih pemalu abizzzz…

  18. laporan pandangan mata nya panjang sekali…
    gak di jeda ama iklan dulu yah??😀

    Ourkami:laporan diterima!!tenang aku punya obt mata kok hihihihi….

  19. Waow… keren chapter I.😉

    Ourkami:thanks udh ikutan baca+tambah semangat si penulisnya (bukan aku lho…fhu fhu fhu…)

  20. Coba kalau ditampilkan Foto2nya😀

    Pasti LEbich CereeeeeeeN🙂

    Salam🙂

    Ourkami:pastinya…boleh ga ya diem2 dipasang fotonya hihihi…

    • gwgw
    • Februari 13th, 2009

    waaaaooohh….keren kok….nice blog
    btw, salam kenyal ya…sekenyal kenyalnya..🙂
    kasih gw kritikan ya…🙂

    Ourkami:makasih..salam kenyal juga, ga nulis URL nya ya mas..😀

  21. kerreen!! aq merinding nich mbacanya!! kalo ada chapter berikutnya, tolong dikabari yak? euh, sina minta izin ngelink blognya dch ya? titip salam buat billy ya… keren!! kapan2 sina diajarin yach,:mrgreen:

    • gwgw
    • Februari 16th, 2009

    buat aja novel mbak, gg usah ragu-ragu…asyik kok🙂

  22. wew,,sekarang banyak monolog yah,,
    tapi keren2 uy,,mantep,,

    pren,ikut 3rd IBSN Blog Award yuk,,daftarin aja artikelnya di sini,,pendaftaran kita tutp tanggal 25 maret jam 23.59,,
    keterangan lebih lanjut bisa diliat di sini,,dan syarat artikel bisa dibaca di sini,,
    IBSN,,berbagi,tak pernah rugi,,

    by, komporizer#6,,kahfinyster,,😀

  23. kerenn kak yang prolognya

  24. haiiiiaaahhhhh kahfi udh ngomporin duluan..hehehe…
    ayo mbak cinta..ikutan IBSN blog award…:mrgreen:

  25. yukkkk….ikutan…… wah, mas didin manggilnya mbak cinta euy…😀 aku manggil nya mbak kami aja ya..😀

    • Tetsuma
    • Februari 20th, 2009

    keren ini mah

    boleh gw sebar di facebook?

  26. Saya mampir kesini membaca beberapa chapter yang cukup panjaaaaaaaaaaaaaang sekali. Thanks ya…

  27. hmm.. fotonya mana?

  28. lama gak kesini jalan-jala aja😀

  29. mampir kemari… ^^

  30. mampir lagi ah

  31. bikin hetrik ah

  32. goalllllllllllllllllllllllllll

  33. panjang…. aku sampe terkantuk2… hehe…
    nice … harus bwat bukunya nie, harusnya…

  34. wow cerita yang baus,,,,,, kenapa cerita ini gak dbawak k penerbit abistu di nopelin mbak,,, hehe:mrgreen:

    salam kenal,,,,

    mampir jugak ya k blog boker,,,,

    • Itmam
    • Maret 6th, 2009

    menebar senyum😀

    • fuchmye
    • Maret 6th, 2009

    nice write mba u’r so rpmantic poetry
    matur nuwun

    • fuchmye
    • Maret 6th, 2009

    nice write mba, u’r so romantic poetry
    matur nuwun

  35. Hi Friend.. Interesting post.. Nice cool blog.. Keep up the good work.. I have added you to my blog roll.. Hope you too will add mine.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!

  36. asaalamualaikum dulu..

    • labas03
    • Maret 10th, 2009
  37. Ceritanya kepanjangan Mba’…
    Tak sempat baca smua….
    Tapi nice post..😛

  38. woow.. i don’t belive it! The Phantasm Lord write story like that.. di dah banyak berubah ya?? salam dari sang slave..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: